Minggu, 12 Juli 2015

FF EUNHAE// GOOD BYE MY LOVE











Title                 :  GOOD BYE MY LOVE
Main cast        : LEE DONG HAE, LEE HYUKJAE
Genre              : Komedi Romantis
Rate                 : Aman Untuk Segala Umur
Leght               : OneShoot

Ini ff sebenernya tidak sengaja karena ide nya pun dadakan, dan langsung aku tuang aja di selembar kerta, mungkin agak aneh alurnya karena dadakan dan tanpa persiapan apapun saat menulis ini. Jika ada hal yang tidak sesuai aku minta maaf dan ini adalah ff EunHae pertama ku. Jadi mohon masukan dan saran dari para senior Author terutama untuk EHS (*bow)..

Happy Reading.....

Tidak bertahan lama....
Ini tidak akan bertahan lama, dan Ia tahu itu sejak awal. Namun Ia memaksakan untuk tetap menjalani ini. Bukan karena apa, tapi demi sosok yang sekarang ada di hadapannya saat inilah yang membuatnya akhirnya mengesampingkan prinsipnya. Dan karena sosok di hadapannya saat ini yang selalu menyakinkan untuk mencoba menjalani apa yang sebenarnya tak dia inginkan.

Bagaiman dirinya tega saat dengan tatapan memelas bak anjing yang terbuang, serta sorot mata yang selalu berbinar kaca saat menatapnya. Membuatnya tak bisa untuk tidak menuruti dan mengiyakan setiap permohonan yang senantiasa meluncur bebas dari bibir tipis nan menggoda itu.

Meskipun Ia sosok yang selalu memegang teguh prinsip. Tapi sekuat apapun dirinya bertahan dengan segala keegoisannya, semua itu akan langsung luruh hanya dengan tatapan memelas milik sosok namja yang ada di hadapannya itu.

Dan lihat lah sekarang, apa yang dia takutkan kini nyata terjadi. Gelombang dan riak masalah itu kian menghimpit mereka. Memang saat awal hubungan itu terjalin semua terasa sangat indah dan menyenangkan dan berjalan tanpa adanya hambatan diantara keduanya. Namun seiring waktu yang terus berjalan semua itu kini menjadi rumit dan sangat menyakitkan untuk keduanya.

Dan hatinya kian terasa sakit setiap kali melihat kekasihnya itu meneteskan air mata. Dan itu tak pernah sekalipun ia inginkan. Sama sekali tak ingin dirinya menyakiti hati orang yang dia cintai. Sekecil apapun rasa sakit.

Tapi pada kenyataannya, hampir setiap saat mata teduh itu meneteskan airmata. Mendapati apa yang selalu membuatnya terluka karena kesalaha pahaman yang kadang terjadidi antara keduanya. Meski ia tahu ini adalah hasil yang harus ia terima tapi ia tak pernah menyangka jika rasa nya akan sesakit ini.

Betapa ia telah gagal menjaga apa yang dulu sempat ia yakini bahwa sekecil apapun masalah yang datang menghadang mereka akan mampu mengatasi itu. Namun lihatlah kini.... kekasihnya selalu saja menangis dan itu sangat menyakitkan.

“ tidak bisakah kita memperbaiki semua ini dan memulainya lagi dari awal?” tanyanya di sela derai tangis yang menghiasi wajah bak malaikat itu.
“ mianhae.... jeongmal mian...” ucapnya setelah beberapa saat terdiam.
“ Hyukie, aku mohon.... aku... aku tak bisa jika kau tak ada disamping ku.... aku....”
“ Hae” belum selesai kalimat itu terucap sosok yang tadi di panggil Hyuk – HyukJae- langsung memotong kalimat sosok yang tadi di panggilnya Hae – DongHae –
“ ku harap kau bisa mengerti, kita tak bisa lagi melanjutkan ini semua” katanya dengan lembut bermaksud membujuk.
“ tapi....” Donghae mencoba memberanikan diri mengangkat sedikit kepalanya yang sedari tertunduk.
“ tidak kah kau tahu, semua ini hanya akan membuat mu semakin terluka!” bentak HyukJae akhirnya. Meskipun tak ada maksud seperti itu, tapi melihat DongHae yang tak juga menghiraukan penjelasannya HyukJae terpaksa membentak pemuda bersurai brunett yang ada di depannya.
Sementara DongHae seketika tersentak menatap HyukJae, dan tak lama mata teduh itu pun tampak akan menumpahkan tumpukan liquit bening di kedua matanya. DongHae benar-benar tak menyangka Hyukjae akan berani berteriak di depannya seperti tadi. Karena ia tahu selama ini semarah apapun HyukJae dia tidak pernah sekalipun membentak atau berteriak.
Perlahan namun pasti DongHae menundukkan kepalanya, ia tak berani terlalu lama menatap kedua manik HyukJae. Donghae takut memandang wajah penuh amarah itu. Tak tahu kau kau Hae, jika wajah itu kini tampak sangat menyedihkan. Bagaimana tidak membentak DongHae adalah hal tersulit ia lakukan. Jangankan membentak menunjukkan kemarahan saja HyukJae tak ingin.

Apalagi melihat bahu itu tampak berguncang karena tangis, kian membuat hati HyukJae menjerit penuh rasa sakit. Tapi HyukJae harus melakukan itu karena ini semua juga demi DongHae sosok yang sangat berarti dalam hidup HyukJae, sosok yang sangat ia cintai. Karena HyukJae tak ingin namja di depannya ini kian tersakiti karena cinta terlarang yang mereka jalin selama ini.
“ semoga kau bisa mendapatkan sosok yang lebih baik dan bisa membuatmu selalu tersenyum bahagia.” Setelah mengatakan itu HyukJae melangkah pergi meninggalkan DongHae yang masih terus menangis.
Namun sebelum HyukJae benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, ia sempatkan memberi ciuman terakhir di puncak kepala Donghae dan mengoyak surai di kepala Donghae dengan lembut hingga membuat tangis pilu itu kian tak terbendung.

“ CUT!” seru sosok yang kini tengah berada di depan sebuah layar monitor di depannya memberi tanda kalau adegan yang barusan itu telah berakhir.
“ sempurna, kalian memang artis yang berbakat.” Katanya seraya berjalan menghampiri HyukJae dan juga DongHae.
“ hyak, Hyung kenapa kau selalu memberiku perang menyedihkan sih!” seru Donghae seraya menyusuti air mata palsu yang tadi membasahi wajahnya.
Sosok yang di panggil Hyung tadi hanya tertawa dengan wajah menyesal. Tapi jujur ia akui selama DongHae ikut dalam drma yang di sutradarai olehnya namja itu selalu mendapat peran sebagai sosok melancolis dan menderita.
“ mian ne, habis wajahmu cocok untuk peran-peran seperti itu sih.” Jawabnya seraya tertawa.
“ hyak Hyung!”
Dan semua yang ada di tempat itu kian tergelak tak kuasa menahan tawa mereka ketika mendapati DongHae yang kini mempoutkan bibir tipisnya, bagaiman tidak dengan pose yang seperti itu membuatnya tampak imut dan sangat menggemaskan.
Sementara Hyukjae? Namja itu harus bisa menahan untuk tak memakan DongHaenya saat itu dan di tempat itu juga. Bagaimana tidak sosok DongHae yang seperti itu benar-benar membuat Hyukjae harus menahan segala rasa yang timbul karena wajah imut bak bayi yang selalu ditunjukkan DongHae saat dia merasa kesal. 



END a.k.a FIN








NB: yak ff apa ini #dilempar para reader, maafkanlah author g jelas ini atas keabalan ff yang ditulisnya. Karena memang benar semua ini tadi pagi mendadak terlintas di otak cetek ku, dan tangan ini langsung saja meraih bulpen di laci dan menuangkannya. Sama sekali tak menyangka akan terlahir ff absurd ini. Ok jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, satu masukan sangat berharga buat aku, *lambailambai bareng ongek tercinta

Selasa, 05 Agustus 2014

MY MEMORY part 1






My memory

Title                : My Memory
Main cast       : Leeteuk/ Park Jung Soo, Donghae, Kyuhyun
Leght              : chapter
Rate                : M
Genre                         : brothership and family
Author           : Kim Soo Kyu

Semua ini milik saya baik ide n cerita yang aku bikin semua dari otak saya kecuali tokohnya aku pinjam dari mereka, semoga ini bisa menghibur kalian semua nya ^^

Don’t like, don’ read and no copas

Happy reading ^^


Mekipun tak di hukum atas keteledorannya, tapi rasa bersalah itu terus menghantuinya, ini benar-benar seperti bukan dirinya. dengan melakukan kesalahan itu membuatnya ragu dengan kemampuan dan profesionalisme nya sendiri.  Bagaiman bisa dalam situasi yang begitu genting tadi ia hampir salah menembak targetnya.

Dan karena kesalahanya tadi terpaksa ia harus rela dipindah tugaskan untuk sementara ini. meskipun banyak dari teman-temannya yang tidak setuju tapi dengan rela ia menerima konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan. Dan disinilah ia saat ini menjaga dan mengawal putra tunggal atasannya.

“ aku sudah bukan anak kecil lagi, Appa!” seru soerang namja pada seorang pria paruh baya yang tadi dipanggilnya Appa.

“ Appa tahu itu, tapi apa kau tahu kau itu putra semata wayang Appa.” Kata sang Appa dengan sabar.

“ lantas apa hubungan nya dengan itu, aku tak mau kalau ada dia disekitarku.” Katanya seraya menunjuk seorang namja yang tengah berdiri tak jauh dari keduanya.

“ itu juga demi keselamatan mu, Appa tak mau sampai terjadi sesuatu pada putra Appa.” Pria paruh baya itu terdengar sedih saat mengucapkan kalimat itu.

 “ appa tak ingin kehilangan lagi, Kyu.”

“ tapi…” belum sempat Kyuhyun menyela Appa nya, pria itu melanjutkan kalimatnya yang membuat Kyuhyun seketika bungkam.

“ apa kau ingin meninggalkan Appa seperti  Oemma mu?”

Dan benar saja begitu kalimat itu keluar dari bibir sang Appa, Kyuhyun langsung diam tak berani menyela lagi bahkan sekarang kepalanya langsung tertunduk lesu. Bukan niat nya ingin membatah perintah ayahnya, hanya saja Kyuhyun merasa tak nyaman jika ada seseorang yang mengawasinya di setiap apa yang ia lakukan. Dan itu dirasa sangat mengganggu ruang geraknya.

Bukan sekali ini saja sang Appa mempekerjakan seorang pengawal untuk menjaganya, dan ini adalah untuk yang kesekian kalinya Kyuhyun harus di jaga oleh seorang pengawal. Dan kemana para pengawalnya yang sebelumnya? Yah benar sekali mereka tak ada yang bertahan lama dengan kelakuan Kyuhyun. Semua nya menyerah bahkan dalam hitungan hari dan yang paling parah adalah pengawalnya yang bernama Kang Min. namja itu bahkan belum genap sehari menjadi pengawalnya sudah langsung menyerah.

Dan kali ini Kyuhyun berani bertaruh dia juga pasti tak akan lama menjadi pengawalnya, dilihat dari wajahnya saja Kyuhyun sudah tahu kalau pengawalnya kali ini tak jauh beda dengan yang sebelum-sebelumnya.



Semua orang pasti berpikir kalau dia adalah namja yang lemah dan tak bisa apa-apa, memang kalau di lihat dari wajahnya tapi di balik itu semua ada sesuatu yang pasti membuat semua orang tercengang. Bagaimana hebatnya dia dalam setiap aksinya saat menjalankan tugas yang di berikan oleh sang atasan.

Bahkan semua orang tahu bagaimana sepak terjang seorang Park Jung Soo dalam menjalankan tugas, meskipun begitu ia tak ingin memperlihatkan itu pada semua orang. Apa lagi sekarang dia tak lagi berada di lapangan tapi ia harus rela di tarik ke belakang dan harus menjaga anak tunggal Tuan Kim yang terkenal sangat arogan tapi manja.

Dan Jung Soo tahu tugasnya kali ini tak mudah seperti yang terlihat, bisa ia pastikan bakal ada banyak masalah dan kesulitan yang mungkin akan ia hadapi dengan putra sang atasan.

“ dongsaeng-ah, kau sedang apa sekarang?” Jung Soo bergumam seraya melihat selebar foto yang ada di tangan nya.

 mianhae, hyung belum bisa menjenguk mu lagi.”

“ hyung mohon, doa kan hyung agar tugas kali ini bisa berjalan lancar. Agar hyung bisa segera pulang, Hae” Jung Soo terus bermonolog seraya memandangi foto yang ada di tangan nya seolah sosok dalam foto itu bisa berbicara.

“hyung benar-benar sudah merindukan kalian.”

Wajah yang biasanya tampak kaku itu kini terlihat berbeda, karena senyum yang selalu tersembunyi itu kini mulai terlihat kembali. Senyum yang selalu terlihat saat ia menjadi dirinya sendiri bukan sebagai sang pengawal yang terkenal kaku.

Dan hanya ada satu orang yang bisa membuatnya luluh dan selalu tersenyum. Dan para sahabatnya juga tahu kalau hanya orang itu saja yang bisa melunakkan sikap Jung Soo. Ya, orang itu adalah adik semata wayang Jung Soo, Donghae.

Meskipun kini mereka terpisah karena Jung Soo yang harus menjalankan tugasnya di Seoul sementara dongsaeng nya tinggal di kampung halaman mereka di Mokkpo bersama sang Oemma.



Lagi-lagi helaan napas keluar dari bibir namja manis itu, dan untuk yang kesekian kalinya juga namja itu melihat ponsel yang ada di tangan nya. Tak ada getaran ataupun bunyi yang keluar dari benda mungil itu. Dan ini sudah lewat dari waktu yang sudah di janji kan seseorang pada nya. Tapi tak ada kabar apapun dan itu membuat nya ragu jika orang itu akan menghubungi.

“ apa sekarang kau jadi sesibuk itu? Hingga tak bisa menghubungi ku?” gumam namja manis itu seraya memandang hamparan langit malam yang terlihat dari jendela kamar bernuansa biru itu.

“ membalas pesan ku saja tidak,” namja itu terus mengerutu seraya mempoutkan bibir nya dan itu sungguh membuat siapa pun yang melihat tingkahnya ini pasti ragu tentang umurnya.

Bahkan sang Eomma pun terkadang heran dengan tingkah bungsunya itu, bagaimana tidak meskipun sudah berumur 20 tahun tapi kemanjaan putra bungsunya itu bukan nya berkurang malah kian menjadi.

Nyonya Park yang kebetulan akan masuk ke dalam kamar sang putra hanya bisa tersenyum melihat apa yang kini dilakukan bungsunya itu.

“ kau kenapa lagi sayang?” Tanya Nyonya Park pada sang putra yang masih saja menggerutu pada ponsel yang ada di depan nya.

Tak ada jawaban apapun dari mulut sang putra tapi saat manic teduh Nyonya Park melihat benda di atas meja belajar bungsunya senyum itu pun tersemat di wajah cantik wanita paruh baya itu.

“ apa kau merindukan hyung mu?” Tanya nya seraya menghampiri sang putra.

“ mungkin dia memang sedang sibuk sekarang ini, Hae chagi.” Dengan lembut Nyonya Park mengelus surai sang putra.

“ tapi Jung Soo Hyung sudah janji pada Hae, Oemma” dengan imut Donghae mempoutkan bibirnya.

Demi apapun sebenarnya ingin sekali Nyonya Park tertawa melihat kelakuan putra nya yang kadang kelewat manja itu, tapi lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum penuh arti.

“ Oemma tahu sayang, tapi kau tahu kan kalau hyung mu pasti akan menepati apa yang sudah dijanjikan nya.” Dengan sabar Nyonya Park terus membujuk Donghae “ Oemma yakin kalau dia ada waktu dia pasti akan menelpon mu sesuai dengan janjinya.”

 Meski enggan namja yang tadi di panggil Donghae itu hanya bisa menghela napas pasrah. Ya mau bagaimana mungkin hyung nya saat ini memang lagi sibuk hingga tak sempat menghubungi diri nya seperti yang sudah di janjikan.

apa kau lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun ku, Hyung?”  batin Donghae seraya memandang bingkai foto yang ada di meja belajarnya.

“ Hae?!” panggil Nyonya Park saat melihat putra nya tampak melamun.

“ ayo, kita makan. Umma sudah memasak makanan kesukaan mu”

“ Hae, tidak lapar Umma. Hae mau tidur saja.”

Tampak Nyonya Park menghela napas melihat kelakuan putra bungsunya yang tampak tak bersemangat itu. Meskipun sudah coba ia bujuk tapi sepertinya putra kesayangan nya itu memang benar-benar mengharapkan telpon dari Hyung nya.

“ baik lah, kalau begitu kamu istirahat saja. Lagi pila ini juga sudah terlalu malam” nyonya Park akhirnya mengalah tak mungkin ia memaksa Donghae untuk menemaninya apa lagi dengan keadaan putra bungsunya saat ini.

“ jaljayo changi” setelah mengucapkan kalimat itu, Nyonya Park berjalan keluar dari kamar bungsunya. Meskipun enggan tapi akhirnya Nyonya Park mencoba memberi waktu pada putra nya sampai bungsunya itu kembali tenang dan ceria.

To Be Contineu...



#taraaaaaa akhirnya setelah lama fakum karena kesibukan dunia nyata ku yang sangat menyita waktu, ini sebagai pemanasan ya chingu maaf kalau ceritanya makin absurd semoga ini bisa mengobati kangen kalian dengan tulisan gaje ku >.<

dan jangan lupa tinggal kan jejak kalian meskipun cuma sedikit karena itu sangat berarti untuk ku yang masih hijau di dunia per ff an (*bow)









Senin, 19 Mei 2014

I MISS U, MY BROTHER




Title                           : I Miss U, My Brother ch 1
Author                      : Kim Soo Kyu
Main Cast                : Kyuhyun, Minho, Changmin, and other
Genre                        : family, Brothership
Rated                         : G (general)
Leght                                     : Chaptered (*May Be)
Warning                   : OOC, gaje, miss typo, dan kawan2 nya :P

Summary                  : meskipun kita terlahir dari wanita yang berbeda tapi bagiku kita tetaplah satu keluarga karena kita memiliki ayah yang sama, meskipun keberadaan mu sempat tak diingikan olehnya.

Note                           : main cast adalah milik Tuhan dan juga keluarga mereka, cerita jelas punya saya karena keluar dari otak absurd saya, kalo ada kemiripan atw pun yang lain itu karena memang cerita ini lumayan pasaran ide nya hehehehe.


Hahay aku bikin ff baru lagi (*padahal yang kemaren belum ada yang kelar) dan ini pertama kalinya aku mengusung mereka sebagai main cast * nunjuk KyuMinHo ^^ semoga kalian tidak bosan dengan tema pasaran ini (* dilempar gayung kerena kebanyakan ngomong) ok langsung aja deh g perlu ita-itu lagi ^^

Happy Reading....



Suara gelegar halilintar malam itu seolah memberi selamat pada sosok mungil yang baru saja melihat dunia, tangis nya yang keras seakan beradu dengan suara riuh hujan yang tengah mengguyur kota Seoul malam itu.

Tangis haru dan senyum bahagia pun tak lepas dari bibir namja yang sejak tadi menunggu dengan cemas di depan ruang bersalin di salah satu rumah sakit di Seoul.

Jika ada yang bertanya apa namja itu ayah sang jabang bayi yang baru terlahir itu, maka dengan lantang aku akan menjawab nya bukan. Dan nyatanya nya memang dia bukan lah ayah dari bayi itu, namja itu adalah paman dari sang bayi lalu dimana kah ayah nya?

Sayang sekali tak ada yang tahu dengan pasti dimana keberadaan pria itu selain ibu dari sang bayi, ya hanya wanita itulah yang tahu dimana keberadaan suami dan juga ayah dari bayi yang baru saja dilahirkannya.

“ keluarga Park in Young?” seru seorang ganhosa yang baru saja keluar dari ruang bersalin.

Mendengar seruan itu namja yang tadi duduk di bangku tunggu di depan ruangan itu langsung berlari menghampiri ganhosa yang kini tampak berdiri di depan pintu ruang itu.

“ saya, saya keluarga nya!?” serunya seraya berjalan tergesa mendekati ganhosa yang tadi memanggilnya.

“ bagaimana keadaan noona ku dan juga bayinya?”

“ sebelumnya saya ucapkan selamat atas kelahiran putra kalian” katanya dengan senyum tersungging di bibir sang ganhosa.

“ tapi... dengan sangat menyesal kami tidak bisa menyelamatkan ibu dari putra anda tuan!?” wajah ganhosa itu tampak sedih setelah ia menyelesaikan kalimat terakhirnya itu.

Betapa terkejutnya namja itu sebut saja Jung Soo, setelah mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh ganhosa itu padanya. Ini pasti salah noonanya tidak mungkin meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.

Tapi saat manic nya menatap sang ganhosa, ia tahu itu bukanlah kebohongan tapi tetap saja Jung Soo tak bisa percaya begitu saja. Saat ia akan bertanya lagi dokter yang tadi membantu noona nya terlihat keluar dari ruangan yang sama dengan sang ganhosa.

Dan lagi-lagi Jung Soo hanya bisa menelan ludah kecut saat manic nya bertemu dengan sepasang manic teduh di depan nya, tatapan rasa iba itu membuatnya tak bisa lagi untuk bertanya karena ia tahu dengan jelas jawaban apa yang akan keluar dari bibir itu jika ia bertanya tentang keadaan noona nya.

Jung Soo hanya bisa menundukkan kepalanya kian dalam saat sang dokter tampak berjalan mendekatinya.

“ kami sudah berusaha semampu kami, Jung Soo- ah” katanya seraya menepuk bahu Jung Soo dengan lembut.

“ temanilah noona mu, mungkin ini adalah waktu terakhir yang bisa kalian lewati” lanjutnya

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Jung Soo, tapi perlahan namja itu mulai melangkahkan kaki nya memasuki ruangan yang ada di depan nya dimana noona nya kini tengah berbaring tak berdaya.

Setelah sampai di dalam Jung Soo benar-benar tak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi mendesak di kedua pelupuk mata teduhnya. Apalagi saat ia melihat noona nya yang kini terbaring dengan aneka macam alat medis yang terpasang di tubuhnya untuk membantunya agar tetap bisa bertahan selama proses kelahiran putra nya.

Seraya berjalan mendekati tempat tidur noona nya Jung Soo tampak membekap mulut dengan kedua tangan nya agar suara tangis nya tak terdengar oleh noona nya. Tapi semua itu tak berguna karena wanita itu tahu ada orang lain yang kini berada bersama dengan nya.

“ Jung... Soo... ah,” panggilan lirih itu kian membuat air mata Jung Soo mengalir deras.

“ ye... noona” dengan kasar Jung Soo menghapus air mata nya saat ia hampir mendekati ranjang In Young agar kakak nya tak curiga.

“ a.. apa kau sudah melihat malaikat ku?” tanya nya dengan susah payah.

“ hmm,” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Jung Soo

“ hei... apa kau menangis...!?” In Young tampak terkejut saat ia bisa melihat wajah adik semata wayang nya itu tampak memerah karena menagis.

Jung Soo hanya mengeleng dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya, ia benar-benar tak kuasa melihat semua ini meskipun senyum tampak menghiasi wajah noona nya tapi Jung Soo tahu noona nya kini pasti merasakan sakit yang teramat sangat di seluruh tubuhnya.

“ Soo-ah... “ Jung Soo kian melebarkar kan langkah nya saat melihat In Young mengulurkan tangan nya.

Dan dengan cepat Jung Soo meraih tangan kurus itu dengan gemetar, lalu menggenggamnya dengan erat.

“ mendekalah....” dengan patuh Jung Soo mendekatkan telingan ke bibir In Young.

“ bisakah... noona titip uri baby padamu?” tanyanya dengan suara yang mulai melemah.

Jung Soo hanya menjawab dengan anggukan.

“ tolong... kau jaga dia untuk ku... ne!?”

“ ani... kau dan aku yang akan menjaga nya noona, kau pasti bisa”

In Young hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan adiknya itu, karena dia tahu waktunya sudah tidak lama lagi, maka nya dia berusaha bertahan dengan kekuatan terakhirnya sebelum ia benar-benar meninggalkan sang putra.

“ bisa... kah...a.. ku... melihat... pu... tra... ku?”

Mendengar kalimat yang mulai tak jelas itu membuat Jung Soo semakin takut, dan saat Jung Soo  menegakkan badan nya ia melihat Dokter yang tadi berbicara dengannya tampak berdiri di ambang pintu dengan bungkusan - tepatnya bayi - di dalam gendongan nya.

Dan In Young berusaha menggerakkan kepalanya saat ekor mata nya menangkap bayangan dokter Tan yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.

Senyum terulas di bibir pucat dan kering milik In Young, saat dokter Tan mengangurkan bungkusan yang tadi di bawanya ke sisi ranjang In Young. Sementara Jung Soo hanya bisa melihat semua itu dengan pandangan penuh tangis.

Meski agak susah akhirnya In Young berhasil memeluk buah hatinya dengan dibantu Dokter Tan dan lagi-lagi Jung Soo hanya bisa melihat seperti orang bodoh tanpa bisa melakukan apapun.
Sementara itu dokter dengan nama lengkap Tan Hangeng itu hanya memandang iba pada Jung Soo, ia bisa merasakan apa yang kini di alami oleh sahabatnya itu. Kesedihan yang begitu terlihat jelas hingga membuat Jung Soo seperti orang linglung.

Air mata Jung Soo kian mengalir deras saat telingan nya menangkap suara samar nyanyian yang terlantun dari bibir noonanya, nyanyian yang ditujukan untuk sang buah hati yang kini tampak tertidur dalam pelukan sang ibu. Pelukan yang mungkin tak akan pernah dirasakan anak itu setelah ini.

Dengan tangis yang terus menghiasi wajahnya, akhirnya Jung Soo mendekati ranjang In Young bermaksud melihat ibu dan anak itu, tapi bersamaan dengan itu terdengar bunyi lengkingan panjang dan konstan dari alat pendeteksi detak jantung yang terpasang di sisi tempat tidur In Young.

Dan setelah itu semua terlihat kabur di mata Jung Soo karena tertutup tangis yang semakin membuat matanya perih, dan ia langsung membekap mulutnya dengan tangan saat para ganhosa itu mulai melepas alat-alat medis dari tubuh kakaknya.

Sepertinya sang bayi pun dapat merasakan jika ibu yang baru saja melahirnya pergi meninggalkan nya, nyatanya tak lama setelah semua alat medis itu lepas dari tubuh In Young bayi munggil yang kini ada di gendongan salah satu ganhosa itu tiba-tiba menangis dengan sangat kencang.

Seperti ada yang menuntunnya Jung Soo berjalan menghampiri ganhosa itu dan berniat untuk menggendong si bayi, meski sedikit tak yakin akhirnya ganhosa itu mengangsurkan si bayi pada Jung Soo. Dan apa yang terjadi setelahnya membuat semua orang di ruangan itu dibuat terkejut.

Mulanya si bayi terus menangis dengan sangat keras tapi saat Jung Soo mulai mendekapnya di dada bidang nya seketika itu juga si bayi langsung terdiam meskipun isakan masih terdengar tapi tak terlalu keras seperti tadi.
Dan bayi itu kian tenang saat Jung Soo mulai membisikkan sesuatu ketelinga mungil itu.





Satu tahun kemudian...

“ Appa pulang!?” seru seorang namja begitu ia memasuki pintu rumah sederhananya yang ia tempati dengan tiga buah hatinya.

Mendengar itu seketika membuat duo bocah yang tadi tengah asyik bermain langsung berlari menghampiri sang Appa dengan suara gaduh mereka.

“ asyik Appa pulang... Appa pulang...” seru si kembar tepatnya sih satu dari duo kembar yang selalu heboh itu.

“ Appa... Appa bawa oleh-oleh apa untuk, Hae?”  tanya si kecil Donghae dengan gaya manjanya.

“ ck, kebiasaan!” seru yang satunya lagi dengan nada tak suka, dan tanggapan itu sukses membuat senyum di wajah Donghae berganti dengan rengutan sebal.

“ sudah lah Hyukie, ini Appa bawa makanan kesukaan kalian.” Kata namja itu seraya mengangsurkan plastik berisi makanan yang tadi di bawanya.

Setelah menerima itu duo kembar itupun langsung melesat ke dalam tanpa berkata apapun lagi. Melihat tingkah kedua jagoannya itu membuat Jung Soo hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Dan senyum itu kian lebar saat ia melihat si kecil tengah asyik bermain di depan ruang keluarga yang juga merangkap ruang makan rumah mungilnya itu.

“ aigo... aigo... uri Kyunie bermain sendiri, eoh?!”

Balita yang di panggil Kyunie itu langsung menoleh saat telinag kecilnya mendengar suara yang sangat dikenalnya.

“ Pa.. Appa.. pa...” serunya seraya merentangkan lengan mungilnya pada Jung Soo

Senyum Jung Soo kian lebar melihat itu, dan itu adalah isyarat buat nya dan tanpa menunggu bibir munggil itu memanggilanya lagi Jung Soo langsung meraih Kyuhyun dan menggendong bocah itu.

“ Pa... Pa... Cipo...”

“ nado bogoshippo, uri Kyunie” Kyuhyun kecil langsung tertawa mendengar kalimat Jung Soo.


Wajah yang tadi penuh dengan senyum itu kian meredup saat  manic teduh Jung Soo menatap wajah polos dalam gendongan nya.  Kenapa ini terulang lagi di keluarganya, kehilangan sandaran untuk yang kedua kali dalam hidupnya.

Meski begitu ia masih beruntung kedua putranya masih bisa meniknati kebersamaan mereka dengan sang Umma meskipun sebentar tapi tidak dengan keponakan nya yang malang ini. Hati Jung Soo kian miris saat teringat tragedi satu tahun yang lalu.

Tapi ia harus bisa kuat untuk kedua buah hatinya dan juga Kyuhyun, setiap bibir mungil itu memanggilnya dengan sebutan Appa rasa haru bercampur sedih tanpa peringatan menguar dalam dadanya hingga terasa sesak tapi rasa bahagia tetap tak mengalahkan semua itu.

“ hik... hik.. hik... Pa... Pa..”

Suara isakan lirih itu seketika menyadarkan Jung Soo dari lamunannya, Kyuhyun seolah bisa merasakan perasaan sedih yang Jung Soo rasakan.

“ cup... cup... mianhae chagi,” Jung Soo kembali menggoyang-goyangkan badan nya agar Kyuhyun tak lagi menangis. Tapi saat tangan mungil itu terulur ke arah lehernya Jung Soo langsung mendekapnya dengan erat.

“ Pa... Pa... u.. i.. ma”

Kata-kata itu mungkin memang tidak jelas tapi Jung Soo tahu, Kyuhyun tak ingin melihatnya menangis, tapi justru karena itu air mata Jung Soo makin mengalir deras. Andai saja noona nya masih hidup dan melihat putranya, alangkah bahagianya dia.

apa kau melihatnya noona, putra mu, malaikat keindahanmu. dia benar-benar sangat pandai, aku yakin kelak Kyuhyun mu pasti membuatmu bangga. Dia sangat mirip dengan mu kau tahu,”

“ Appa, Hae ngantuk...” rengekan itu sukses menarik Jung Soo ke alam nyatanya kembali dan ia baru menyadari kalau bocah dalam dekapan nya itu pun kini tengah tertidur.

“ ah, baiklah ini juga sudah waktunya Kyunie untuk tidur,” katanya seraya menggandeng tangan Donghae.

Jung Soo tampak heran saat mendapati Hyukie masih duduk di meja makan.

“ kau juga harus pergi tidur, Hyukie-ah!” serunya pada putra tertua 10 menitnya

“ apa kita akan tidur berempat lagi, Appa?” tanyanya seraya mengekor di sebelah kembaranya yang sudah tampak sangat mengantuk itu.

“ nde, tentu saja bukankah setiap hari juga begitu?”

“ tapi aku tak mau tidur dekat Hae, Appa”

“ kalau begitu kau tidur di sebelah Kyunie malam ini”

“ baiklah, aku akan bantu Appa menyiapkan kasur untuk kita!” seru Hyukie atau Hyukjae seraya berlari menuju ke satau-satunya kamar yang ada di rumah mungil itu.

Melihat tingkah putranya membuat senyum Jung Soo kembali telukis, meskipun awalnya berat tapi kini semua itu dapat ia nikmati dalam hatinya ia terus berdoa semoga kebahagian serta kebersamaan mereka akan selalu terjaga.

In Young Noona, Soora-ah, tolong jaga kami dari surga.aku tahu kalian selalu mengawasi kami. Noona, jika saat itu tiba aku janji akan memberitahukan semuanya pada Kyuhyun. Tentang siapa orang tua kandungnya. Doakan aku agar aku bisa melalui semua itu dengan baik noona” itulah doa yang selalu Jung Soo minta setiap malam.
Kuat kah ia kelak jika saat itu tiba, melihat kedekatan dan ikatan batin antara Kyuhyun dan dirinya yang begitu kuat. Jung Soo benar-benar tak benari untuk membayangkan itu sekarang. Biarlah saat ini menjadi saat ini yang akan terjadi nanti semua itu ia serahkan pada yang di atas.

“ jjaljayo Hyukie, Hae, Kyuhyunie” setelah memberi kecupan selamat malam pada tiga jagoan nya Jung Soo pun ikut membaringkan tubuhnya diantara Kyuhyun dan Donghae menyusul ketiganya ke alam mimpi.

To Be Continue.....





yang susah masuk ke aff ataupun ffn da beberapa yang bisa kalian buka selain di sini juga bisa ke WP ku ^^ 



Sabtu, 10 Mei 2014

THE LAST TIME MEMORY



Title            : The Last Time Memory ch 1
Main cast  : Soo-Hyun and Kyuhyun
Author      : Kim Soo Kyu
Rate        : M
warning   : gaje, OOC, dll

Happy Reading ^^   

“ kau harus melakukan nya seperti ini” seorang namja dengan sabar menunjukkan kepada sang dongsaeng cara mengupas buah jeruk yang menjadi favorit adik nya itu.
Sang dongsaeng pun dengan semangat memperhatikan apa yang sang hyung tunjukkan pada nya, dengan mata bulat lucu nya itu sang dongsaeng terus memperhatikan apa yang hyungnya lakukan. Dan setelah buah itu besih dari kulit yang membungkusnya sang namja cilik itu bersorak gembira seraya bertepuk tangan heboh setelah sang hyung menyelesaikan apa yang tadi dilakukannya.
“sebelum kau memakan ini, kau harus mencuci tangan mu hingga bersih dulu supaya cacing kotor tak ikut masuk ke dalam perut mu.”
Dengan anggukan penuh semangat sang dongsaeng berlari ke arah wastafel yang tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini. tak butuh waktu lama untuk namja cilik itu mencuci kedua tangan mungilnya dan kini bocah itu tampak melahap buah favoritnya dengan penuh semangat.
Sementara sang hyung hanya memperhatikan sodaranya dengan heran tapi senyum kagum tak lepas dari wajahnya. Ia tak pernah menyangka adik kecilnya kini sudah mulai tumbuh besar, padahal ia merasa baru kemarin ibunya melahirkan si bungsu dan sekarang anak itu kini sudah menjadi sebesar ini.
Merasa dirinya diperhatikan namja cilik itu menoleh pada sang hyung yang memang tengah memperhatikan nya.
“ wae hyung?” tanyanya seraya mengunyah potongan terakhir buah yang ada di tangan nya.
Tapi sang hyung hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dongsaengnya, hingga membuat bocah itu merengut lucu. Melihat itu sang hyung kemudian mengacak surai ikal sang domgsaeng dengan sayang lalu membawa tubuh mungil bocah itu ke pangkuannya.
Meski awalnya menolak tapi akhirnya namja cilik itu justru mencari posisi nyaman dalam pangkuan sang hyung. Ya namja cilik itu sangat menyukai apa yang selalu di lakukan oleh sang hyung jika dia sudah mulai melakukan kebiasaan buruknya yaitu merajuk.
Kalau sudah seperti itu keduanya pasti betah berlama-lama dengan posisi mereka, hingga kedua orangtua mereka memanggil barulah namja cilik itu lepas dari sang hyung meski tidak rela keluar dari kehangatan yang ia dapat dari sang hyung.
Flashback end


“ Kyu, kau melamun lagi ya?” Tanya Leeteuk seraya menepuk bahu Kyuhyun pelan namun Kyuhyun hanya diam tak merespon panggilan itu.
Leeteuk tampak menghela napas lelah saat panggilan nya lagi-lagi tak direspon.

 Memang  ini bukanlah yang pertama bagi Leeteuk mendapati Kyuhyun yang seperti orang linglung. Tapi aneh nya saat Kyuhyun berkumpul bersama ayah dan ibu nya namja itu tampak selalu tersenyum ceria tapi jika ia sudah berada di luar rumahnya seperti ini lah  yang selalu dilakukan nya.

Ya, Leeteuk tahu itu setelah apa yang terjadi di keluarga Kim beberapa bulan lalu, tepat nya setelah kepergian Soo Hyun yang di bawa oleh ayah kandung nya ke Jepang untuk melakukan pengobatan penyakit jantung nya.
 Pada awalnya semua tampak normal dan baik-baik saja, tapi sejak Soo Hyun dan Tuam Bae tak memberi mereka kabar apapun membuat seluruh keluarga Kim menjadi cemas akan keberadaan ayah dan anak itu.
Utamanya Kyuhyun dan juga Yeon Ra sang Oemma, bahkan Kangin yang mencoba menyusul mereka ke Jepang pun tak bisa menemukan keberadaan Soo Hyun dan juga Young Jun.

Hal itu sempat  membuat Kangin berpikir kalau Young Jun mencoba mengingkari apa yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Tapi Kangin mencoba untuk tetap berpikir positif meski pun rasa cemas ia rasakan tapi karena ia tak ingin membuat Yeon Ra bertambah sedih Kangin mencoba menghubungi Young Jun sekali lagi.



“ kapan kau kembali ke Seoul hyung?” gumaman itu kembali terlontar dari bibir namja yang kini tengah berbaring di sebuah kamar dengan nuansa biru langit.
“ apa kau sudah lupa dengan janji mu pada kami?” gumamnya lagi.
 “ kenapa tak memberi kabar apapun pada kami? Apa kau sudah lupa dengan kami semua di sini?”
Itu lah yang di lakukan nya selama tiga bulan terakhir ini, tepatnya setelah tak ada lagi kabar yang dia dapat dari sang hyung.
Setiap kali ia teringat akan hyung nya Kyuhyun selalu pergi ke kamar Soo Hyun yang ada di sebelah kamarnya dan ia pasti akan meracau sendiri seraya memandangi foto Soo Hyun yang ada di atas nakas tempat tidur namja itu.
Meskipun ia menutupi itu dari kedua orang tuanya tapi Kyuhyun tak pernah tau kalau sang Oemma sebenarnya sering melihatnya yang diam-diam pergi ke kamar hyungnya.

Seperti hari ini misalnya, saat Yeon Ra akan mengantarkan kopi untuk sang suami tanpa sengaja ia melihat putra bungsungya itu masuk ke dalam kamar si sulung.
Setiap kali melihat itu rasa sedih yang coba ia pendam selama ini kembali muncul, apa lagi saat tanpa sengaja Yeon Ra mendengar apa yang selalu Kyuhyun ucapkan jika sudah  berada di dalam kamar sang hyung.
Setiap melihat apa yang dilakukan Kyuhyun di kamar Soo Hyun rasanya ingin sekali Yeon Ra berlari dan memeluk putra nya itu, tapi ia sadar Kyuhyun yang selalu diam-diam pergi ke kamar sang hyung pasti tidak ingin membuatnya sedih dan khawatir.
Maka itu seraya mengamati putra nya dengan diam-diamYeon Ra selalu berdoa agar putra nya selalu dalam keadaan baik-baik saja, meskipun sulit karena tak adanya kabar dari Young Jun ataupun Soo Hyun akhir-akhir ini Yeon Ra percaya kalau putranya dalam keadaan sehat.




Some where
“ detak jantung nya mulai melemah.”
“ tekanan darah juga menurun drastis.”
“ berikan suntikan untuk menaikkan tekanan darahnya.”
Suara itu saling bersahutan di dalam sebuah ruang operasi di sebuah rumah sakit, para dokter terus berusaha menyelamatkan seorang pasien yang kini tengah mereka tangani saat ini.

Dan ini adalah operasi terlama yang pernah mereka lakukan meskipun begitu misi penyelamatan ini adalah yang paling menguras tenaga dan konsentrasi mereka.
Meski ini bukan yang pertama untuk mereka tapi operasi kali ini benar-benar membuat mereka merasakan sebuah ketegangan yang tidak seperti biasanya, utamanya untuk seorang dokter muda yang kini tengah memimpin operasi ini.
Dengan lihainya tangan sang dokter muda itu memainkan pisau operasi di kedua tangan nya. Meskipun terlihat tenang sebenarnya detak jantungnya tak keruan saat ia mengetahui pasien yang ia tangani saat ini adalah putra seorang yang sangat berpengaruh di daerah tempat dia berasal dan dokter itu juga sangat mengenal baik keluarga sang pasien.
Saat jam menunjukkan pukul 5 dini hari waktu setempat akhirnya operasi yang ia pimpin pun selesai,  meskipun begitu tak lantas ia merasa lega karena masih ada satu tahapan operasi lagi untuk bisa menyelamatkan hidup pasien nya ini.
Setelah semua dokter yang membantunya keluar dari ruang operasi kini tinggal dirinya dan dokter anastesi di dalam ruang itu, setelah menyerahkan pasien pada dokter anastesi ia pun berjalan keluar dari ruang operasi menyusul yang lain untuk menemui keluarga sang pasien yang tengah menunggu kabar yang ia bawa.

Dan benar saja saat dokter muda itu keluar dari dalam ruang operasi seorang pria paruh baya datang menghampirinya dengan wajah penuh kekhawatiran yang amat sangat.
“ bagaimana keadaan putra ku?” Tanya pria itu dengan suara yang penuh ketegangan.
“ kami sudah berusaha semampu kami, Tuan” katanya dengan penuh ketenangan “ tapi kami akan terus berusaha menyelamatkan putra anda.”
Pria paruh baya itu hanya bisa menghela napas setelah mendengar penjelasan sang dokter, ia hanya bisa pasrah dan terus berdoa untuk keselamatan sang putra yang kini tengah berjuang untuk mempertahan kan hidupnya.

To Be Countineu



taraaa akhirnya bisa publish juga ini ff semoga tidak mengecewakan (*bow)